Wednesday, September 17, 2008

6,200 Chinese babies ill, 3 die from tainted milk



Related News


BEIJING (AP) — The government was dispatching thousands of inspectors to monitor producers as officials reported Wednesday that the number of babies sick from tainted milk formula had climbed dramatically to nearly 6,200 from 1,200 a day earlier.

At least three children have died and more than 1,300 others, mostly newborns, remain hospitalized with dozens suffering from acute kidney failure.

Health Minister Chen Zhu said he expected the numbers of affected babies to increase as "more and more parents take kids to the hospital."

The head of China's quality control watchdog agency, Li Changjiang, said 5,000 inspectors will be sent out nationwide to monitor companies after government testing showed that 20 percent of the companies producing milk powder had dairy products with melamine.

The chemical additive was at the center of a pet food scandal in the United States in 2007. An estimated 1,500 dogs and cats died after ingesting a pet food ingredient manufactured in China that was laced with melamine.

The emerging crisis has raised questions about the effectiveness of tighter controls China promised after a series of food scares in recent years over contaminated seafood, toothpaste and pet food exports.

It is also the second major case in recent years involving baby formula. In 2004, more than 200 Chinese infants suffered malnutrition and at least 12 died after being fed phony formula that contained no nutrients.

In a sign of the government's concern, Premier Wen Jiabao presided over a meeting Wednesday of China's Cabinet to back plans for a national inspection of milk products, according to a notice on the government's Web site.

Suppliers to the dairy companies are believed to have added the banned chemical, normally used in plastics, to watered-down milk to make it appear higher in protein. Inspectors will now start testing for melamine in all dairy products, Li said.

On Wednesday, the country's two largest dairy companies, Mengniu Dairy Co. and Yili Industrial Group Co., were among the companies forced to recall baby formula. In addition, Guangdong-based Yashili and Qingdao-based Suncare recalled their tainted milk powder, which is exported to five countries in Africa and Asia: Bangladesh, Yemen, Gabon, Burundi and Myanmar.

U.S. authorities have said formula from China is not approved for import but may be on sale in ethnic groceries, especially areas with large Chinese populations.

Inspectors are checking for contaminated formula in U.S. stores, and U.S. Food and Drug Administration spokeswoman Judy Leon said none has been found. Inspectors have checked more than 500 stores in California alone.

"So that is good news," she said.

So far, all the sick infants in China were found to have consumed milk powder produced by the company at the heart of the crisis, Sanlu Group Co., Chen said. Most babies developed urinary problems, including kidney stones, after consuming Sanlu milk powder for three to six months, he said.

Sanlu's general manager Tian Wenhua, who was fired a day earlier, was detained by police Wednesday, the Xinhua news agency said. Four milk suppliers have been arrested.

China's health minister said that 6,244 babies fell ill after being fed tainted milk formula, and that 158 were suffering from acute kidney failure. Chen reported the death of a third baby in eastern Zhejiang province but gave no details. The two earlier deaths had been reported in Gansu province. Currently, 1,327 children, mostly newborns, remain hospitalized.

The political fallout continued Wednesday, with the mayor of Hebei province's capital, Shijiazhuang, being fired, Xinhua reported. Four other city officials from Shijiazhuang, where Sanlu is based, were fired earlier.

Sanlu company officials as well as government officials share the blame for delays in reporting the contamination, said Hebei Deputy Governor Yang Chongyong, who spoke on the sidelines of the press conference.

Sanlu did not inform the Shijiazhuang city government until Aug. 2, despite receiving public complaints about the milk powder five months earlier, Yang said. Then city officials waited until Sept. 9 to inform provincial officials, who then took a full day before contacting the central government, he said.

The company went public last week with the information after its New Zealand partner, Fonterra, told the New Zealand government, which then informed the Chinese government.

On Wednesday, Fonterra CEO Andrew Ferrier told reporters in New Zealand that Sanlu officials told the local government on Aug. 2 and urged an immediate public recall, but authorities "made their own judgment."

"We were enormously relieved when the Chinese government decided to make it public because we had been urging that from day one. The relief was just massive," he said.

Monday, September 15, 2008

Heboh LNG Tangguh

Kompas, Senin, 8 September 2008 | 03:00 WIB

Kurtubi

Kasus penjualan LNG Tangguh dengan harga murah ke China belakangan menarik perhatian masyarakat. Adalah Wakil Presiden yang menyatakan potensi kerugian negara dari penjualan LNG Tangguh bisa mencapai 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 700 triliun selama 25 tahun kontrak.

Potensi kerugian ini akan makin bengkak jika formula tidak dapat diubah dan dalam 25 tahun ke depan harga minyak dunia berada di atas 120 dollar AS per barrel.

Untuk menghindari hal itu, Presiden memutuskan membentuk Tim Renegosiasi yang diketuai Menko Perekonomian. Tantangan yang akan dihadapi tim ini cukup berat mengingat formula harga jual yang merugikan Indonesia ini sudah tertuang dalam kontrak dan pernah direnegosiasi pada tahun 2006.

Namun, hasilnya diketahui sangat minim karena batas harga minyak hanya naik dari 25 dollar AS menjadi 38 dollar AS per barrel. Padahal, tahun 2006, harga minyak sudah menembus 70 dollar AS per barrel.

Akibatnya, harga jual LNG Tangguh hanya naik dari 2,66 dollar AS ke 3,35 dollar AS per MMBTU. Untuk diketahui, dengan harga minyak mentah sekitar 120 dollar AS per barrel, harga LNG dunia di pasar spot dan harga jual LNG Badak dengan kontrak jangka panjang adalah sekitar 20 dollar AS per MMBTU.

Secara teknis, Tim Renegosiasi kemungkinan akan menghadapi kesulitan yang disebabkan oleh konflik kepentingan dari China National Offshore Oil Corporation (CNOOC). Di satu sisi CNOOC merupakan pembeli LNG Tangguh di Fujian, di sisi lain CNOOC merupakan bagian dari pemilik/”penjual” dengan kepemilikan saham di Proyek LNG Tangguh sekitar 17 persen.

Diingatkan sejak 2004

Sebenarnya, tahun 2004 (Kompas, 21/12/2004), saya sudah mengingatkan kepada pemerintah mengenai harga jual LNG Tangguh yang sangat murah, yang merupakan dampak dari diterapkannya UU Migas Nomor 22 Tahun 2001. Pasalnya, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) sebagai ”pengelola” kekayaan migas nasional, sesuai UU Migas berstatus sebagai badan hukum milik negara yang tidak layak untuk berbisnis perminyakan. Akibatnya, untuk mengembangkan dan menjual migas bagian negara, berdasarkan UU Migas Pasal 44 Ayat 3g, BP Migas harus menunjuk pihak lain sebagai penjual.

Meski yang telah berpengalaman mengembangkan dan menjual LNG Indonesia (Arun dan Badak) dengan formula harga jual yang sangat visioner adalah Pertamina, BP Migas dan Departemen ESDM menunjuk, atau paling tidak menyetujui BP (perusahaan multinasional di bidang migas) sebagai operator/ pengembang dan penjual LNG Tangguh tanpa melalui tender.

Penunjukan BP sebagai pengembang dan penjual LNG Tangguh telah memunculkan peluang konflik kepentingan mengingat BP juga mempunyai proyek LNG di Australian North West Self LNG (ANWS) yang juga merebut pasar yang sama dengan LNG Tangguh.

Tahun 2002, dalam tender untuk merebut pasar Guangdong yang juga diikuti Qatar, ternyata LNG Tangguh ”kalah” dari ANWS. ”Kekalahan” ini kiranya perlu diteliti lebih lanjut. Apa betul LNG Tangguh ”kalah” dari ANWS karena LNG Tangguh menawarkan harga lebih tinggi dari ANWS? Menurut sumber dari Institut of Energy Economics, Tokyo (Koji Morita, 2003), kemenangan ANWS terjadi setelah dilakukan negosiasi individual antara bidder dan pemilik proyek.

Boleh jadi, keberadaan BP yang rancu, di mana satu kaki ada di LNG Tangguh dan kaki yang lain di LNG ANWS, telah ikut menentukan kekalahan LNG Tangguh. Oleh karena posisinya itu, BP berpeluang besar mengetahui secara persis berapa harga penawaran LNG Tangguh dan berapa harga penawaran LNG ANWS ke pasar Guangdong! Menurut Morita, harga yang diperoleh oleh ANWS di Guangdong adalah sekitar 3 dollar AS per MMBTU (harga minyak 20 dollar AS per barrel).

Panik

Dengan kalahnya LNG Tangguh di Guangdong, di Indonesia seolah-olah muncul suasana panik, khawatir LNG Tangguh tidak ada pasarnya. Padahal, hampir semua ahli ekonomi energi dunia bersepakat bahwa permintaan LNG dunia ke depan hingga 2030-2050 sangat cerah mengingat adanya kecenderungan dunia untuk menggunakan energi yang lebih bersih.

Di tengah ”kepanikan” itu, China menyatakan bersedia membeli LNG Tangguh tanpa lewat tender! Namun, di ujungnya harga yang terjadi sangat murah, jauh lebih murah ketimbang LNG yang dibeli China dari Australia, bahkan jauh lebih murah daripada harga elpiji tabung 3 kilogram untuk rakyat miskin.

Meskipun pada tahun 2002 posisi pasar gas/LNG dunia pada posisi buyer market, dengan harga jual sedang mengalami penurunan, fenomena penurunan harga itu selalu terjadi sementara. Karena sifat harga gas/LNG berfluktuasi mengikuti harga minyak, dinamis!

Setiap terjadi penurunan harga, tahun berikutnya harga gas/LNG dunia kembali naik. Pola dinamis seperti ini sudah terjadi sekurang-kurangnya empat kali sebelum penjualan LNG Tangguh tahun 2002. Oleh karena itu, tidaklah tepat kalau harga ekspor dikondisikan flat untuk waktu 25 tahun. Terlebih kalau hanya mengacu secara sepintas pada beberapa penjualan yang mematok harga flat, padahal banyak negara lain yang menggunakan formula harga minyak yang dinamis. Kalaupun dengan harga flat, tetapi dengan batasan harga minyak yang lebih tinggi dan syarat-syarat lain yang menguntungkan penjual.

Mengingat sifat alami dari harga komoditas energi (batu bara, gas/LNG) yang selalu berkointegrasi dengan harga minyak, harus diupayakan agar formula harga ekspor LNG Tangguh mengacu pada harga minyak dengan tanpa pembatasan. Ini agar negara tidak dirugikan. Tidak cukup hanya sekadar menaikkan batas atas.

Opsi untuk membekukan pengiriman perlu dipertimbangkan. Sesuai kontrak, untuk ini Indonesia harus membayar denda. Lebih baik membayar denda 300 juta dollar AS daripada harus rugi puluhan miliar dollar AS.

Sebaiknya ekspor dialihkan ke Jepang dan sesuai UU sebagian diperuntukkan bagi kebutuhan domestik. Baik untuk pembangkit listrik, bahan baku petrokimia, bahan bakar rumah tangga, industri, maupun untuk substitusi bensin transportasi.

Kurtubi Pengamat Perminyakan; Pengajar Program Pascasarjana FEUI


Dapatkan artikel ini di URL:
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/09/08/00152682/heboh.lng.tangguh