Setelah kita membicara perdagangan internasional dan investasi, tiba saatnya kita bicara tentang sistem perbankan di Cina karena bank merupakan institusi kunci yang menentukan jatuh bangunnya sebuah perekonomian. Bank sering disebut financial intermediary yang mempunyai fungsi utama meminjam dan meminjamkan uang. Kecuali itu, bank juga mempunyai peran dalam pembuatan uang, dalam mekanisme transfer dana, memberi jaminan credit worthiness dan mempertukarkan uang. Ada dua macam bank: milik pemerintah dan milik swasta, walaupun keduanya harus tunduk kepada peraturan yang dibuat oleh pemerintah.
Pada masa pra-Reformasi memang tidak terasa ada kebutuhan mendesak akan bank, namun pada masa pasca-Reformasi, ketika ekonomi Cina memutuskan untuk mengambil sistem kapitalisme, diperlukanlah bank-bank yang dapat ikut menggerakkan ekonomi karena bank dapat mempengaruhi money supply dan juga karena bank memberikan pinjaman untuk investasi. Pemerintah-pemerintah di dunia sering memakai sistem perbankan untuk mengendalikan ekonomi lewat kebijakan moneter (misalnya, lewat operasi suku bunga).
Sebelum Reformasi hanya ada satu bank, yaitu Bank Rakyat (Renmin yinhang) yang mempunyai cabang di seluruh negara. Fungsinya adalah untuk menerbitkan uang dan memberikan pinjaman kepada perusahaan milik negara. Bank Rakyat tidak mempunyai otoritas sendiri untuk memberikan pinjaman, sebuah otoritas perencanaan yang memutuskan. Tidak terdapat bank komersial dalam arti bank yang dapat memberikan kredit kepada perusahaan sesuai dengan kritera keuntungan.
Mengikuti derap Reformasi, pada tahun 1983 Bank Rakyat diubah menjadi bank sentral, lalu didirikan bank-bank khusus, Bank Industri dan Perdagangan (Gongshang yinhang), Bank Pertanian (Nongye yinhang), dan Bank Pembangunan Rakyat (Jianshe yinhang). Oleh Sidang Pleno III Komite Sentral XIV (November 1993) diputuskan mendorong reformasi di bidang keuangan, dengan memberi independensi yang lebih besar kepada Bank Rakyat sebagai bank sentral dan mengubah bank-bank khusus menjadi bank komersial. Sebagai catatan sejarah, pada 18 Maret 1995 Konggres Rakyat mengesahkan UU tentang Bank Rakyat Cina dan pada 10 Mei tahun yang sama UU tentang Bank Komersial (efektif 1 Juli 1995).
Mari kita perhatikan secara khusus Bank Rakyat yang mempunyai kedudukan sebagai bank sentral. Sesuai dengan Pasal 2, UU tentang Bank Rakyat, Bank Rakyat ada di bawah pengarahan Dewan Eksekutif, dan karenanya ia menjadi bagian dari Eksekutif, tidak independen seperti Bank Indonesia dan banyak bank sentral lainnya di dunia. Kebijakan moneternya adalah untuk menstabilkan nilai mata uang yuan dan dengan demikian mendukung pertumbuhan ekonomi (Pasal 3).
Bank Rakyat menentukan jumlah money supply, suku bunga dan nilai tukar dan hal-hal yang berkaitan dengan itu setelah mendapatkan persetujuan dari Dewan Negara, walaupun ia juga dapat melaksanakan keputusan yang ada dalam yurisdiksinya secara independen. Bank memberi laporan mengenai kebijakan moneter dan pengawasan keuangan kepada Konggres Rakyat (Pasal 6), tapi ia tidak boleh dicampuri oleh pemerintah tingkat provinsi dan pemerintah daerah (Pasal 7). Modal Bank Rakyat disediakan oleh negara dan dimiliki oleh negara (Pasal 8). Gubernur Bank Rakyat dinominasikan oleh Perdana Menteri, disetujui oleh Konggres Rakyat dan diangkat oleh Presiden.
Bank Rakyat memang tidak lagi di bawah Kementerian Keuangan tapi pada Dewan Negara. Kendati demikian, semacam perencanaan ekonomi masih ada, terutama perencanaan makro-ekonomi. Tujuan dari Bank Rakyat, seperti telah disinggung di atas, tidak hanya menjaga stabilitas harga tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Rakyat juga ikut melaksanakan kebijakan industrial dengan memberikan kredit kepada beberapa sektor meskipun mungkin harus mengorbankan sektor lain (misalnya, pada 1995 Bank Rakyat memberikan kredit kepada pertanian dan perusahaan negara ukuran kecil dan menengah). Bank Rakyat juga menetapkan target bagi money supply serta suku bunga bagi pinjaman bank dan bagi simpanan bank sekaligus. Sasaran ini tidak konsisten dengan suku bunga yang ditentukan oleh kekuatan pasar. Dengan kata lain, perencanaan yang dilakukan oleh bank sentral bisa tidak konsisten dengan alokasi sumberdaya dengan pasar.
Mengingat kegiatan merencanakan yang dipikul oleh bank sentral tidak diserahkan kepada kekuatan pasar saja, orang benar-benar harus menyandarkan diri pada kemampuan dan kompetensi dari perencana di pusat serta struktur insentif bagi para perencana ini. Soal struktur insentif ini, di Cina Bank Rakyat mungkin mendapatkan tekanan politik dari pemimpin politik yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi (misalnya, November 1992) atau menghentikan inflasi tinggi (misalnya, tahun 1994 dan 1995). Seandainya Bank Rakyat dapat menolak tekanan politik, masih ada masalah kedua sehubungan dengan kompetensi staf dalam membuat ramalan ekonomi. Misalnya, mereka meramalkan inflasi yang amat tinggi. Hal ini dapat menyebabkan kebijakan moneter yang ketat sehingga mempengaruhi pertumbuhan.
Sebagai catatan mengenai prestasi Bank Rakyat, inflasi di Cina sejak Reformasi dapat dikatakan cukup rendah dibandingkan dengan inflasi yang menimpa Rusia yang juga mengadakan reformasi ekonomi. Angka rata-rata per tahun kenaikan indeks harga ritel keseluruhan antara 1979-1995 adalah 8,1 persen. Ada beberapa episode inflasi tinggi, yaitu pada 1985 (8,8%), pada 1988 (18,5%), 1993 (13,2%), dan 1994 (21,7%). Menurut Gergory Chow, semua inflasi ini terkait dengan meningkatnya money supply yang mendekati 50%. Ketika Deng Xiaoping selesai mengadakan Perjalanan ke Selatan (1992), dan mendesak dipercepatnya pertumbuhan ekonomi, terjadilah peningkatan besar dalam money supply. Zhu Rongji ambil tindakan pengetatan ketika pada pertengahan 1993 dicermati adanya inflasi. (Chow, 2002: 225)
Masalah yang dihadapi oleh bank sentral di Cina adalah tiadanya independensi yang cukup dari Eksekutif, yaitu Dewan Negara (Indonesia juga mengalami yang sama sampai akhirnya diadakan reformasi). Pemimpin Cina kiranya berpendapat, jika perencanan ekonomi makro adalah tanggung-jawab penting dari Dewan Negara, mengapa kebijakan moneter tidak masuk dalam tanggung-jawab mereka juga? Jika bank sentral ada di bawah Dewan Eksekutif hal ini memudahkan Dewan untuk mengkoordinir kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Bank sentral memang tidak boleh kena pengaruh politik, tetapi – demikian kata Chow – kadang-kadang pengaruh politik itu perlu. Dalam hal ini “pengaruh politik” ditafsirkan sebagai kebutuhan akan stabilitas politik. Namun apa yang terjadi jika pemerintah melakukan hal-hal yang tidak baik?
Cina masih menunggu reformasi perbankan lebih jauh, yaitu masuknya bank-bank asing. Sebagai akibat dari keanggotaannya dalam WTO, Cina dipaksa untuk mengambil kebijakan ini, bahkan juga kebijakan mengijinkan bank-bank swasta.
Kecuali perbankan, sistem finansial lain yang dikembangkan di Cina adalah pasar saham. Ini juga sebuah institusi yang khas untuk negara yang memakai sistem pasar kapitalis. Sebuah perusahaan dapat mengumpulkan dana masyarakat lewat pasar saham. Di Cina pada awal tahun 1990-an didirikan dua pasar saham, di Shenzhen dan di Shanghai. Berbarengan dengan ini diterbitkanlah sekitar 250 undang-undang dan peraturan mengenai pasar saham. Hal ini mencerminkan sikap pemerintah bahwa perkembangan pasar saham harus benar-benar diatur.
Pada akhir 1998 jumlah perushaan yang listed di dua pasar saham itu naik ke angka 851 dari angka 745 pada 1997. Nilai pasar dari saham yang di listed mencapai 2 trilyun yuan, atau setara dengan 25 persen output nasional Cina. Pada tahun 1997 terdapat 98 perusahaan yang bergerak sebagai pialang saham. Sementara itu sebanyak 2.440 kantor saham tersebar di kota-kota di atas tingkat kabupaten. Di situ bekerja kurang-lebih 100.000 orang.
Di Cina dibedakan dua macam saham, saham “A” dan saham “B”. Yang pertama hanya diperuntukkan warganegara Cina yang membelinya dengan mata uang Cina, sementra yang kedua hanya diperuntukkan untuk investor asing dan diperjual-belikan dalam USD. Sistem ini melindungi investor Cina dari spekulasi oleh investor asing karena spekulasi hanya akan menimpa harga saham B.
Pada 28 Februari 2001 pemerintah memutuskan memberi ijin kepada warganegara Cina untuk memakai mata uang asing membeli saham B yang dijual di pasar saham di Shenzhen dan di Shanghai. Terjadilah serbuan besar. Investor antri panjang, menunggu pasar saham buka. Harga saham B melonjak tinggi dan cepat, mencapai 10 persen (batas yang ditetapkan untuk sehari itu). Penjualan ditutup pada 1 Maret karena batas harga telah dicapai dan tidak ada lagi saham B yang dijual. Sejumlah besar investor Cina yang memiliki USD pulang sambil menggigit-jari.
Yang sudah dimulai tapi masih harus bertumbuh adalah asuransi. Di Cina bisnis di bidang asuransi dihentikan selama 20 tahun. Tapi kemudian dimulai perusahaan asuransi, bahkan perusahaan asuransi asing diijinkan beroperasi di Cina. Misalnya pada akhir 1996 tercatat 126.130 orang yang bekerja di berbagai markas mau cabang Perusahaan Asuransi Rakyat Cina (dari 2,1 juta orang yang bekerja di bank-bank negara dan sistem asuransi). Pertumbuhan asuransi mengalami pertumbuhan yang fenomenal, misalnya, dari 1995 sampai 1996 terjadi pertumbuhan dari 0,397 persen sampai ke 48,7 persen. Seiring dengan meningkatnya GDP Cina, dan berkurangnya sistem kesejahteraan oleh negara, diharapkan perusahaan asuransi juga akan bertambah.