Dari pengalaman negara-negara di Eropa Barat, Amerika Serikat, juga Jepang, Australia, Selandia Baru, ketika sebuah negara menerapkan sistem ekonomi pasar, peran negara makin berkurang. Pasar dianggap cukup mengambi alih peran negara. Ini memang tidak nampak menonjol pada sistem mixed economy (John M. Keynes) yang dipraktikkan di Eropa dan Amerika sesudah Perang Dunia II, tetapi sangat jelas pada saat negara-negara yang pada tahun 1980-an beralih kepada sistem “ekonomi neo-liberal.” Terjadilah usaha “mengusur” negara dan ini dilakukan secara sistematis dan cepat di Inggris, Amerika Serikat dan Selandia Baru. Dalam bahasa ekonomi neoliberal sejauh dirumuskan oleh IMF (International Monetary Fund), mereka menjalankan “structural adjustment programme,” atau sering disebut juga “
Cina secara umum – juga pada tahun 1980-an – dapat dikatakan mengikuti kecenderungan yang serupa. Memang pembahasan populer yang sering dibuat oleh para jurnalis terbatas pada perubahan dari “ekonomi terencana” menuju ke “ekonomi pasar.” Perspektif ini terlalu sempit dan jelas memuat bias ideologi neoliberal. Perubahan sistem ekonomi di Cina perlu dibaca dalam konteks global pada waktu itu. Pertanyaannya lebih tepat kalau tidak hanya bertanya apakah Cina sudah menjalankan ekonomi pasar kapitalis, tetapi sistem ekonomi kapitalis yang mana yang dianut Cina. Jadi, jauh lebih merangsang ingin tahu kalau bertanya sejauh mana Cina telah menggusur negara menurut model ekonomi neoliberal. Secara spesifik: bagaimana Cina menjalankan deregulasi, privatisasi dan perdagangan bebas (tiga pilar dalam SAP)?
Dari pokok-pokok yang telah kita bahas, kita temukan bahwa negara di Cina masih belum tergusur ke luar dari ekonomi. Ini nampak dalam hampir semua kegiatan ekonomi. Sistem pasar dipakai sehingga harga benar-benar menjadi signal yang menentukan dalam proses produksi, distribusi dan konsumsi. Namun sekaligus juga nampak bahwa negara masih mengadakan intervensi dalam perekonomian secara amat mendalam. Pengusaha swasta ternyata tidak bebas berusaha, termasuk mengumpulkan modal. Pasar modal masih terbagi menjadi dua, perbankan masih dikuasi oleh empat bank yang dikuasai oleh negara. Demikian pula perdagangan internasional dan investasi asing yang tidak sebebas seperti dibayangkan orang karena ada subsidi ekspor dalam perdagangan internasional dan ada pembatasan ketat pada investor asing yang masuk ke Cina. Negara masih mempunyai perang penting di Cina. Ini bahkan nampak jelas dalam regulasi internet yang sebenarnya harus mengabdi kepada kepentingan bisnis untuk menjelajahi dunia maya dengan kebebasan penuh.
Laurence Brahm berpendapat bahwa apa yang terjadi di Cina pada tahun 1990-an tidak dapat dilepaskan dari peran sentral dari perdana menteri pada masa itu, Zhu Rongji.
BUMN yang bangkrut. Namun dikatakannya bahwa Zhu yang dalam hatinya masih mempunyai warisan dari “ekonomi terencana” dengan amat cerdik menggabungkan sistem pasar dan peran negara yang besar. Pemerintah Cina pada waktu itu menjalankan apa yang diistilahkan “hongguan tiaokong” (kontrol makro). Secara sepintas ia nampak seperti ekonomi Keynesian karena Zhu Rongji menuangkan banyak modal dalam pembangunan infrastruktur di seluruh Cina. Negara tetap diberi peran besar oleh Zhu.
Dengan ini Zhu Rongji bertabrakan dengan ajaran dan teori ekonomi neoliberal yang dipropagandakan oleh IMF dan Bank Dunia. Tetapi nyatanya perekonomian Cina mengalami pertumbuhan yang tinggi, dan yang lebih penting lagi perekonomian Cina tidak terkena krisis keuangan pada tahun 1997. Dua bukti ini dipakai oleh Brahm untuk memperlihatkan bahwa resep neoliberal ala IMF dan Bank Dunia tidak dapat diterapkan di mana saja di dunia. Sistem pasar memang diterapkan tetapi sekaligus juga ada peran negara. Kata Brahm lagi: “So, while Zhu attempted to adopt classic Western monetary and fiscal tools, the nature of
Jadi, sejauh mana sistem pasar telah berakar di Cina? Sejauh mana ekonomi berhasil mematahkan dominasi politik? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab sekarang. Untuk itu perlu dibicarakan secara mendalam peran Partai Komunis Cina, dan ini akan menjadi topik pembicaraan minggu yang akan datang.
No comments:
Post a Comment