Tuesday, May 20, 2008

P E R T A N I A N

Cina adalah negara agraris, 30 tahun yang lalu maupun sekarang. Walaupun pada saat ini kemajuan di kota-kota besar di Cina sangat mengagumkan (terutama Shanghai), Cina tetaplah negara agraris karena 60 persen dari penduduknya hidup dari pertanian dan hidup di pedesaan. Perkembangan pertanian di Cina sudah mendapat perhatian besar dari Pemerintah Cina sejak berdirinya pada 1949 hingga sekarang. Namun pertanian tetap merupakan sebuah pertanyaan besar: bagaimana pertanian Cina saat ini dikelola?

Pada awal masa Republik, para petani di Cina mengalami masa-masa menyenangkan karena dijalankannya “Land reform” yang memang menjadi tumpuan kebijakan Partai Komunis Cina. Petani miskin dan petani sangat miskin mendapatkan tanah yang dirampas dari para tuan tanah. Sungguh terjadi sebuah kemenangan. Namun kemenangan ini cuma berumur pendek karena secara perlahan Pemerintah Cina menyadari bahwa tanah yang dibagi-bagi kepada petani tidak dapat memberi hasil yang banyak, yang cukup untuk memberi makan seluruh rakyat Cina, di pedesaan maupun di perkotaan. Tanah yang terpecah-pecah (dikuasai oleh keluarga-keluarga kecil) harus dihimpun menjadi sebuah lahan yang luas dan memberi hasil yang melimpah.

Gagasan ini diterjemahkan menjadi “komune rakyat” tempat para petani menggarap sawah dan ladangnya bersama-sama, dan membagi hasilnya untuk dinikmati bersama-sama. Sementara itu sebagian dari hasil itu dikirim ke kota untuk memberi makan penduduk kota. Eksperimen ini berlangsung dari tahun 1956 sampai sekitar tahun 1980-an. Pada masa itu Cina dianggap telah menemukan sebuah model pembangunan yang lebih baik daripada “Revolusi Hijau” yang dipraktikkan di negara-negara lain. Sistem komune tidak sepenuhnya mengandalkan teknologi atau mekanisasi untuk meningkatkan produksi pertanian, sehingga efek negatif yang ditimbulkan oleh Revolusi Hijau nyaris nol. Namun eksperimen komune menimbulkan masalah juga, antara lain low growth.

Sangat mengejutkan bahwa reformasi di Cina dimulai di pedesaan, yaitu ketika para petani itu berani “berontak” dan membatalkan sistem komune. Muncul “sistem tanggung jawab produksi” atau “sistem kontrak” yang dapat meningkatkan produksi pertanian dan juga surplus pertanian. Antara 1980-1995 dapat dikatakan ekonomi Cina dihela oleh petani dan pedesaan. Pendapatan petani meningkat, dan membelanjakan uangnya untuk barang-barang manufaktur, dan ini pada gilirannya meningkatkan konsumsi dan akhirnya produksi. Ekonomi Cina pada awal reformasinya bertumbuh di atas tumpuan pertanian.

Reformasi di bidang pertanian ini pada dasarnya didasarkan atas prinsip mengurangi peran negara. Komune bubar, berarti bubar pula campur tangan negara di bidang pertanian, termasuk semua bentuk subsidi (pendidikan, kesehatan, pensiun). Petani kini berdiri sendiri di atas kakinya, terjun dalam persaingan pasar bebas. Situasi ini ternyata tidak menguntungkan petani untuk jangka waktu panjang. Setelah 15 tahun menjadi tulang punggung ekonomi nasional, terutama lewat “xiang-zhen qiye,” kini kontribusi pertanian makin mengecil. Petani dan pertanian mendapat perhatian yang kecil dari Pemerintah.

Pendapatan per kapita petani tidak meningkat sama cepatnya dengan pendapatan per kapita di perkotaan. Tahun 1978, kedua kelompok ini berangkat dari titik yang sama, dan tahun 1995 pada umumnya dipakai sebagai titik-balik. Pendapatan per kapita orang kota terus meningkat, sementara pendapatan per kapita petani mengalami stagnasi. Saat ini pendapatan per kapita petani masih di bawah RMB 4000 sementara pendapatan per kapita di perkotaan di atas RMB 10.000.

Ketimpangan antara desa-kota tidak hanya sebatas dalam hal pendapatan, tetapi juga dalam hal akses pelayanan, misalnya saja akses pendidikan. Tabel 1 menunjukkan ketimpangan antara desa dan kota dalam hal pendidikan. Proporsi penduduk desa yang memperoleh pendidikan sampai level universitas sangat rendah, sementara angka buta huruf di pedesaan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perkotaan.

TABEL 1

PERSENTASI JUMLAH PENDUDUK DENGAN LEVEL PENDIDIKAN YANG BERBEDA, 2000


Buta Huruf

Sekolah Dasar

Sekolah Menegah Pertama

Sekolah Menengah Atas

Universitas

Kota (besar)

2.49

14.34

39.98

29.22

5.49

Kota dan Kabupaten

4.20

21.27

44.31

23.79

1.27

Desa

8.74

38.88

43.92

7.75

0.10

Sumber: Data Sensus Cina Kelima (2000)

Ketimpangan pendapatan antara desa dan kota melahirkan protes-protes dari petani yang menuntut agar negara lebih memperhatikan nasib dan suara mereka. Protes-protes ini jumlahnya terus meningkat dalam kurun waktu yang singkat. Terhitung jumlah protes di Cina pada tahun 1993 adalah 8.700, kemudian meningkat menjadi 58.000 di tahun 2003, 74.000 di tahun 2004, dan terus meningkat hingga mencapai 87.000 protes di tahun 2005. Jumlah tersebut belum termasuk protes-protes yang dilakukan dengan jalan damai (seperti petisi dengan menggunakan surat atau mendatangi kantor pemerintahan secara langsung). (Zou Keyuan, Bulletin EAI, 2006)

Pemerintah Hu Jintao kini mulai memeperhatikan pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi negara dalam bidang pertanian terus mengalami peningkatan. Di tahun 2006, pemerintah pusat mengalokasikan dana sebesar 297,5 milyar yuan (US$ 37,2 milyar) untuk pembangunan daerah pedesaan, meningkatkan produksi pertanian, dan juga untuk meningkatkan pendapatan petani. Dari investasi tersebut, 66,2 milyar yuan merupakan transfer payment untuk mendukung reformasi pajak pedesaan, memotong 22 milyar yuan (US$ 2,8 milyar) pajak pertanian. Dari anggaran pemerintah pusat dan pemerintah lokal, dikeluarkan dana sebesar 13,2 miliar yuan (US$ 1,7) untuk subsidi 642 juta petani di 30 provinsi untuk menanam padi. Kemudian sekitar 98,9 milyar yuan (US$ 12,3 milyar) dari pemerintah pusat digunakan untuk pembangunan infrastruktur pedesaan.

No comments: