
Koordinasi masyarakat: authority, market, persuasion
Manusia hidup bersama manusia lainnya dalam masyarakat. Bagaimana dapat membuat manusia yang satu bekerja sama dengan manusia lain? Misalnya, bagaimana acara pagi hari dapat diatur sehingga tidak terjadi ketegangan dalam rumah? Atau, bagaimana dalam sebuah negara orang dapat bekerja sama menghasilkan kesejahteraan bersama? Kalau negara
Pertanyaan mengenai “koordinasi” ini sudah berabad-abad yang silam menghinggapi banyak pemikir. Seorang pemikir Inggris dari abad ke-17, Thomas Hobbes, mengatakan bahwa masyarakat manusia harus diatur dengan cara kekerasan, yaitu yang disebutnya “Leviathan.” Tanpa kekerasan manusia akan saling cakar dan saling bunuh, dengan akibat tidak menghasilkan apapun. Tentu Hobbes mengatakan bahwa munculnya Sang Penguasa ini hasil sebuah kesepakatan bersama dari orang-orang dalam masyarakat itu.
Charles Lindblom, seorang profesor ilmu politik di
Tapi ada kegiatan lain yang tidak dapat dikendalikan dengan authority semata-mata. Misalnya, berapa besar sebuah perusahaan harus memproduksi sepatu. Jikalau authority dipakai, pasti akan menimbulkan jumlah produksi yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan (entah jumlahnya terlalu banyak, entah warnanya tidak cocok, entah ukurannya tidak klop, dsb.). Untuk memproduksi sepatu – atau barang apapun yang dibutuhkan oleh masyarakat – diperlukan sistem koodrinasi lain yang disebut market (pasar). Seorang manajer perusahaan sepatu cukup melihat apakah di pasar tersedia cukup sepatu dengan melihat berapa banyak sepatu yang terjual. Jika dalam jangka waktu tertentu gudangnya sudah kosong, maka dia dapat menambah jumlah produksi sampai pada suatu titik ketika ditemukan di pasar ada banyak sepatu yang tidak terjual.
Sebagai seorang yang berpengetahuan luas, Lindblom menyaksikan cara ketiga yang juga dapat dipakai untuk mengkoordinasikan manusia. Manusia-manusia memang digerakkan dengan authority dan market, tetapi di samping itu juga dengan yang disebutnya persuasion. Dari arti katanya jelas, manusia-manusia “diajak” atau “dihimbau” untuk mengerjakan sesuatu. Yang mengajak adalah Pemerintah, dan cara yang dipakai adalah “kata-kata.” Misalnya, manusia diajak tidak membuang sampah sembarangan dengan alasan sampah dapat menyebabkan selokan mampet, dan akhirnya menyebabkan banjir. Bagaimana kalau ada orang tidak cepat memahami himbauan dan ajakan ini? Pemerintah akan menyelenggarakan “pendidikan” bagi mereka. Nah, karena itu Lindlbom menamai cara ini “perceptoral system” (perceptor = guru). Dia melihat Uni Soviet, Cuba dan Cina memakai metode persuasion dengan amat kreatif dan efektif.
Di Cina banyak sekali himbauan yang dikeluarkan oleh penguasa kepada rakyatnya untuk melakukan sesuatu. Yang paling terkenal adalah himbauan untuk “mengabdi sesama” (we renmin fuwu), salah satu ucapan Mao Zedong. Di mana-mana slogan ini dapat dibaca, dan orang dihimbau untuk berbuat “mengabdi sesama.” Pada masa Mao berkuasa, memang orang yang hanya memikirkan diri sendiri, akan dikritik, bahkan bisa kehilangan pekerjaannya. Pada masa ini himbauan ini masih terpampang di mana-mana.
Jadi, ada tiga macam untuk meng-koordinasi-kan kegiatan manusia: authority, market dan persuassion. Lindblom berpendapat bahwa ketiga macam cara ini dipakai baik di negara kapitalis maupun negara sosialis, baik di negara yang demokratis maupun yang otoriter. Tentu saja kombinasi authority, market, dan persuassion dipakai dengan takaran yang berbeda.
Dalam masa satu semester ini, kerangka ini akan dipakai untuk menganalisa “sistem sosial politik” di Cina. Bagaimana authority, market, dan persuasion dipakai di Cina saat ini? Apakah lebih mengandalkan authority ataukah market? Apakah persuasion masih dipakai juga? Hal ini penting untuk dilakukan karena Cina pernah menerapkan koordinasi dengan authority dan persuasion, dan sejak 1978 sedang dalam proses untuk mengubahnya. Sejauh mana perubahan itu telah terjadi? Apakah market kini lebih diandalkan untuk koordinasi masyarakat?
Kalau ditempatkan dalam konteks dunia saat ini, koordinasi oleh market hampir dipakai oleh semua negara di dunia. Peran negara makin dipersempit, dan peran pasar makin luas. Dalam ilmu ekonomi paham ini disebut “neo-liberalisme,” yang dimulai di Inggris dan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Lembaga internasional – IMF, World Bank, WTO – bahkan ikut menyebarkan dan menanamkan paham tersebut di seluruh dunia. Tentu saja tidak ada negara yang secara “murni” menerapkan prinsip neo-liberal ini, bahkan di Amerika Serikat sendiri. Apakah Cina dalam hal ini melaksanakan neo-liberalisme ini secara murni? Mudah-mudahan pertanyaan ini dapat terjawab pada akhir semester ini!
No comments:
Post a Comment