Tuesday, February 12, 2008

Pertemuan II

Sistem perseptoral di China

Sehubungan dengan studi kita tentang Cina, perhatian kita arahkan kepada cara perceptoral system. Lindblom mengatakan bahwa Cina selama masa pemerintahan Mao Zedong memakai perceptoral system secara intensif. Surat kabar, radio, TV dipenuhi dengan ajakan dan himbauan pemerintah. Bahkan juga bidang kesenian tidak luput dari usaha Pemerintah untuk “mendidik” rakyatnya.

Di RR Cina pada masa itu harian Renmin ribao memainkan peran sentral, panutan semua publikasi pemerintah, pusat maupun daerah. Apa yang diterbitkan dalam Renmin ribao dicetak atau dikutip lagi di Harian Buruh, Harian Pemuda, Harian Petani, dsb. Laporan dalam harian itu juga disiarkan oleh radio, Stasiun Siaran Rakyat di Beijing, yang disiarkan lagi ke segala pelosok negara, dari kota sampai desa-desa. Kalau berita itu sangat penting (ucapan Mao!), maka berita itu akan dicetak menjadi buku atau pamflet yang akan dipakai untuk kegiatan “kelompok belajar,” untuk kegiatan kebudayaan lainnya.

Kegiatan kesenian – musik, teater, lukisan, tari – semuanya dipakai untuk menyebarluaskan propaganda. Pemerintah Cina pada waktu itu, menariknya, mendorong rakyatnya untuk giat mendirikan aneka kegiatan kesenian. Seperti dilaporkan, di sebuah komune wajib mempunyai pusat kebudayaan, pusat rekreasi, sekolah seni, perpustakaan, kelompok tari, dsb. Dalam semua kegiatan ini gagasan-gagasan yang dilemparkan oleh Pemerintah harus diterjemahkan.

Cara yang juga sering dipakai adalah “kampanye” (yundong), yang dilakukan dengan menggerakkan banyak orang. Ada yang dilakukan secara periodik untuk memperingati acara tahunan (hari berdirinya RRC, hari buruh, dsb.), di samping itu ada juga yang dilakukan pada jangka waktu tertentu untuk mencapai sebuah tujuan. Misalnya, kampanye “land-reform”, kampanye “Seratus Bunga,” kampanye “Pendidikan Sosialis,” dsb. Kampanye terbesar adalah Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966 yang mengajak penduduk Cina untuk menjadi “manusia baru.”

Menurut Lindblom, penduduk di Cina pada waktu itu melakukan hal itu dengan penuh semangat mengingat moral incentive” (insentif moral). Ia membedakan dari “insentif material,” insentif yang diberikan dalam bentuk materi kepada mereka yang berprestasi dalam kegiatan ekonomi. Insentif moral, misalnya, berupa puji-pujian, plakat penghargaan, lencana, panji-panji. Malah sering terjadi seseorang diangkat menjadi “pahlawan.” Mereka yang mampu mencapai target kampanye, menerima salah satu dari penghargaan itu, dan ini cukup memuaskan. “Buruh teladan,” “Petani teladan,” “Perusahaan teladan,” kerap diberikan sebagai insentif agar orang/pabrik itu semakin giat berusaha.

Insentif moral memang mempunyai keunggulan dibandingkan dengan insentif material, yaitu dalam hal semangat yang menggebu-gebu. Seketika orang dapat diyakinkan akan tujuan yang diterangkan, ia akan bergerak dengan semangat yang meledak. Dengan insentif moral “dilepaskan cadangan antusiasme, enerji dan kreativitas yang melimpah,” kata Lindblom. Begitu ia mendapatkan penugasan, ia dapat mendefinisikan baik tanggung-jawab dan kewajiban yang terlekat dalam tugas itu serta mengerahkan enerji maupun segala kemampuannya. Ini berlaku baik bagi mereka yang tergolong “kader” maupun warga negara biasa.

Pada bentuk yang ekstrim insentif moral ini pada akhirnya menghantar pada konflik antara “ahli” dan “merah.” Mana yang lebih hebat: yang memiliki keterampilan atau yang memiliki semangat? Pada masa Revolusi Kebudayaan, yang terakhirlah yang dipilih. Sementara mereka yang menguasai “teknik” dipandang tidak/kurang memiliki semangat yang tinggi dan menggebu.

No comments: