Monday, February 25, 2008

Pertemuan IV


PERTEMUAN IV: INSENTIF MATERIAL

Peralihan dari “perceptoral system” ke “market system” berjalan terus kendati perlawanan dari kelompok yang menentangnya. Deng Xiaoping dalam berbagai kesempatan mendesakkan perubahan ini. Misalnya, dia dengan terang-terang mengatakan: “Kebijakan umum kami adalah menempatkan dorongan moral di tempat pertama, dan insentif material di tempat kedua. Pemberian medali dan sertifikat merupakan dorongan moral dan memberikan penghormatan politik. Hal ini penting. Namun, insentif material tidak dapat dilupakan.” (DXPWX, 1978: 99). Pernyataan seorang pemimpin seperti ini sangat penting dan menentukan bagi rakyat jelata yang masih belum yakin.

Seperti telah diutarakan, para petani lah yang paling pertama menyambut kebijakan baru ini dengan penuh antusias. Ini mula-mula berbentuk “sistem tanggung-jawab keluarga,” tiap-tiap keluarga mengontrak sebidang tanah dari negara (tim produksi), dan hasil dari tanah itu diberikan kepada negara sesuai dengan perjanjian kontrak, dan kelebihan dari jumlah kontrak menjadi milik petani dan bebas untuk dijualbelikan di pasar. Sementara itu alat produksi (alat pertanian maupun hewan) yang menjadi milik komune dikembalikan oleh tim produksi kepada petani. Dengan demikian petani memperoleh “insentif material” untuk bekerja lebih keras di ladang mereka.

Sehubungan dengan diperkenalkannya sistem tanggung-jawab, sistem kepemilikan tanah harus diubah. Di Cina tanah adalah milik negara atau kolektif. Akibat diterapkannya sistem tanggung jawab petani boleh mengontrak tanah selama jangka waktu tertentu, mula-mula 15 tahun, kemudian diperpanjang lagi menjadi 50 tahun. Hal ini membuka kesempatan petani untuk mempunyai hak milik atas tanah (walaupun dalam jangka waktu yang terbatas), dan dapat mewariskan kepada anak atau cucunya.

Sementara itu insentif material juga diperkenalkan di kota-kota tempat beroperasinya pabrik-pabrik. Sama seperti di pedesaan, sistem kontrak dan sistem tanggung-jawab diterapkan agar dengan insentif material ini para manajer bekerja lebih produktif. Di samping itu, manajer mendapat otonomi luas untuk bekerja sesuai dengan prinsip efisiensi: ia boleh menetapkan jadwal produksi, besar gaji dan tinggi-rendahnya harga. Yang tak kalah penting, ia dilengkapi dengan kekuasaan untuk mengangkat dan memecat pegawai atau buruh. Semua hal di atas sebelumnya diputuskan oleh birokrat negara dan Partai.

Sistem insentif material tentu langsung berkaitan dengan gaji. Pada masa sistem yang terkendali oleh Pusat, buruh dapat dikatakan tidak menerima gaji karena hampir semua kebutuhannya telah dipenuhi oleh negara. Kecuali itu, dalam teori komunisme, gaji dianggap sebagai bentuk penindasan. Dalam sistem yang baru ini, muncullah gaji, yang diberikan menurut keahlian dan kebutuhan pabrik. Besar kecilnya gaji ditentukan oleh kedua hal itu, dan juga oleh semangat kerjanya. Buruh bekerja tidak lagi demi insentif moral, tetapi demi memperoleh gaji yang lebih tinggi.

Untuk melengkapi munculnya sistem pasar ini, mulai 1984 Pemerintah juga melepaskan kontrol atas harga barang-barang. Tapi untuk mencegah kekacauan, Pemerintah memperkenalkan dua macam harga: harga yang ditetapkan Pemerintah dan harga yang ditetapkan oleh pasar. Harga yang pertama berlaku untuk produk yang dihasilkan oleh perusahaan negara, sedang harga yang kedua untuk produk sisanya. Baru sepuluh tahun kemudian harga sebagian besar produk benar-benar ditentukan oleh pasar, tidak banyak yang masih ditentukan oleh negara.

Terakhir, Pemerintah Cina tidak lupa mendirikan sistem perbankan karena ekonomi pasar harus didukung oleh sistem perbankan modern. Pada 1983 Bank Rakyat ditetapkan menjadi bank sentral. Ia didampingi oleh Bank Komersial dan Industri, Bank Pertanian dan Bank Pembanguan Rakyat sebagai bank-bank khusus. Perubahan yang mendasar terjadi pada 1995 dengan membuat Bank Rakyat independen.

Peralihan dari sistem perseptoral ke sistem pasar menuntut banyak perubahan pada berbagai institusi di Cina. Cina tidak hanya harus memperkenalkan pasar barang, tetapi juga pasar tenaga kerja dan pasar keuangan. Dan ini berpengaruh langsung pada sistem produksi, sistem distribusi dan sistem konsumsi. Namun dampak besar terjadi pada cara berpikir orang Cina. Benar, kalau dikatakan bahwa pada awal tahun 1980-an, Cina mengalami “revolusi kedua.” Kita akan membahasnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya dalam semester ini.

No comments: